A Moment.....



Ramadhan tahun lalu, tepatnya tahun 2011, merupakan ramadhan yang sangat berkesan. bukan karena adanya fenomena-fenomena yang jarang terjadi ataupun karena ada peristiwa tabrakan pesawat. bukan..... tapi karena saya menghabiskan ramadhanku di belahan daerah lainnya. jauh dari orang tuaku, sahabat-sahabatku dan yang lainnya. tidak seperti biasanya, ramadhan kali ini betul-betul berbeda, berbeda dan berbeda.

ku injakkan kaki di tempat itu layaknya pangeran yang baru turun dari kudanya dan di sambut pengawal-pengawalnya. begitupun denganku, namun bukan pengawal-pengawal yang menyambutku melainkan keluarga-keluarga yang ada di sana. hehehe...

awal-awal ku menghabiskan ramadhan ku di sana terasa biasa-biasa saja. Namun, ketika detik agaknya semakin cepat langsung berubah jadi jam dan jam pun mempercepat gerakannya menjadi hari, di situlah ku mulai menikmati semuanya. keluarga yang sangat baik menurutku, suasana yang sejuk serta kawan-kawan yang sangat lucu menemaniku menhabiskan waktu di daerah ini. 



Namun, satu hal yang membuatku tak ingin pulang dari sana ketika ku mulai mengenal seseorang yang sangat sederhana, pendiam, cantik, rajin dan semuanya dia miliki lah.

Hahhh... Pantai Tak Berombak..?????



Ada yang tau PTB…???

Pertanyaan di atas kalau di tujukan buat orang-orang Maros pastilah mereka serentak bilang, TAU….!!!!! Tapi, kalau di tujukan buat orang-orang di luar maros… semuanya pasti Cuma menganga…. Trus bertanya balik…!! Memang ada pantai yang tak berombak….??? Hahaha….

Nama yang aneh sebenarnya…. Tapi di balik keanehannya, terdapat keunikan tersendiri. Pantai yang biasanya di hiasi dengan ombak-ombak yang memanjakan mata orang yang melihatnya kini berevolusi dan membuang ombaknya. Yahh… itulah pantainya anak-anak Maros.

PTB (Pantai Tak Berombak) sebenarnya bukan pantai, tapi aslinya sebuah danau yang terletak di kota Maros, Sulawesi Selatan. Namun tak seperti danau-danau yang ada di Indonesia lainnya. Apa yang membedakan PTB ini dengan danau lainnya…?? Yah… jawabannya cukup aneh…. Kalau danau-danau wisata lainnya, biasanya sering di kunjungi oleh turis-turis. Tapi ini beda, saya tak pernah dengar PTB ini di kunjungi oleh seorang turis sekalipun. Hahaha……

Kalau asal muasal terbentuknya danau ini, saya masih kurang tau. Yang jelasnya danau ini dulunya adalah sebuah tempat pemancingan yang terkesan kumuh dan tak sedap di lihat. Namun sekarang sudah di desain sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah danau yang luar biasa menariknya. Danau ini pun memang sengaja di buat untuk menambah keindahan kota Maros itu sendiri. Katanya, bukanlah orang Maros asli kalau belum tau yang namanya PTB tersebut.

Bukan hanya suasana pantai yang kita rasakan. Kita juga dapat menikmati berbagai macam jajanan di sana. Mulai dari ayam bakar, gado-gado, mie bakso, sampai gorengan-gorengan pun ada di sana.
Suasana danau yang romantis pun membuat para muda-mudi tak tahan untuk menikmati keromantisan danau ini. Tak jarang, para suami isteri bahkan anak-anak muda sekalipun betah untuk berlama-lama di danau ini.
Jadi, kalau di antara teman-teman masih ada yang belum ke sana. ayo.. buruan..!!! tidak gampang loh menikmati keindahan dan kesejukan kota maros di malam hari. Di  jamin anda tidak kecewa….!!!

Dia Yang Merubah Segalanya


ini adalah sebuah curhatan dari seorang perempuan yang menjadi kakak sekaligus sahabatku....!!! setelah mendengarnya, terbesit dalam benakku untuk menjadikannya sebuah cerpen.. yahh..
lewat ceritanya dia mulai bercerita......

Aku berasal dari pulau Sulawesi, yang kebanyakan SD nya sekarang tak memadai untuk di tempati. Lantai yang masih beralaskan tanah liat, dinding yang sedikit lagi akan punah dan atap yang tak lama lagi runtuh, membuat kami, para siswa tercengang melihatnya. Tetapi, aku punya cita-cita dan harapan ingin menikmati jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya! Aku memiliki banyak luka dan lara yang hampir setiap hari kurasakan. Sebuah keadaan yang selalu menghalangiku untuk mencapai cita-citaku tersebut, kemiskinan menghanguskanku layaknya kemurkaan kobaran api. Tanggung jawabku pun sebagai anak pertama setiap hari menghantuiku bahkan pernah membuatku ingin menyudahi perjuangan menggapai dunia ini.
Terseduh-seduh aku menghadapi kerasnya dunia reformasi ini. Sampai-sampai sudah ku taksir diriku ini tak akan mampu melanjutkan sekolah. Namun, semuanya itu tak membuatku untuk mundur dari perjuangan. Aku masih ingin bersekolah. Meski bapak menentang keputusan bijakku ini. Waktu itu aku duduk di bangku kelas tiga tsanawiyah di sebuah pesantren agak jauh dari kampung halamanku. Membutuhkan waktu satu setengah jam menuju ke sana. Tiba-tiba ku teringat sebuah surat yang datang dua hari yang lalu.

Langit, Sahabatku...

Coretan kali ini ku awali dengan kata "Langit". tak pernah terfikir dalam benakku, bahwa ternyata Allah begitu banyak menyediakan bacaan dalam kehidupan kita. bukan hanya Buku-buku, Novel, komik ataupun majalah-majalah. bahkan alam ini pun bisa kita jadikan bacaan. percaya atau tidak. cobalah kita untuk sesekali mendongak ke langit. Menatap semua yang ada di atas sana. Mulai dari awan yang muncul dengan berbagai raut wajah, hujan yang mulai membasahi bumi ini, petir yang menyambar-nyambar, guntur yang menggelegar, sampai bintang-bintang yang kelap-kelip ketika malam datang.

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa-peristiwa itu. Awan yang berbagai macam bentuk, menandakan berbagai macam keadaan kita dalam dunia ini. Hujan yang turun menggambarkan tetesan air mata kita di kala sesuatu melukai hati kita. kilat yang menyambar-nyambar berarti semangat kita yang berapi-api ketika ingin mendapatkan sesuatu. Dan yang paling ku favoritkan, bintang-bintang yang berkelap-kelip, menggambarkan perasaan sejuk ketika malam mulai datang. Aku tak ingin sedikitpun melewati indahnya kerlap-kerlip bintang di angkasa. bulu kudukku seolah tak kuasa menyaksikan itu semua.


Langit, langit dan langit. mejadi motivator tersendiri buatku. Ketika ku mulai menatapnya di pagi hari, Langkahku semakin lincah untuk melewati semua cobaan di dunia ini. ketika ku tatap di waktu sore, seolah-olah dia menemaniku menyeruput Teh hangat buatan tanteku. Dan ketika ku tatap dia saat malam mulai menyelimuti, aku tambah yakin, bahwa esok akan lebih baik dari hari ini.